Membaca Dua Pementasan dalam Satu Panggung Yosa Batu Oleh: Fathul H. Panatapraja* Lensa Teater - Malam jumat wage, tanggal 14 malam 15 maret 2019. Di depan gedung Sasana...
METRONOME #3: BIKIN TONTONAN TEATER ITU “KAYAK GINI LHO REK!”
- 1:46:00 AM
- By Lensa Teater
- 1 Comments
Oleh: Moehammad Sinwan Lensa Teater - Di Malang, komunitas teater itu banyak banget. Terutama komunitas-komunitas teater yang tumbuh di kalangan kampus dan sekolah-sekolah. Dan tentunya pementasan-pementasan teater di...
MENGADA TANPA KARENA: Catatan dan Kritik atas Pementasan Drama Bahasa Arab "Nuurun Saati'un min Nurs"
- 3:22:00 PM
- By Lensa Teater
- 1 Comments
Lensa Teater - Masrohiyah dalam bahasa Indonesianya berarti drama. Masrohiyah adalah
salah satu mata kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang. Sebagai tugas akhir dari mata kuliah, diberlakukan pementasan drama di akhir
semester. Hari ini pada tanggal 6 Desember 2018 pukul 19.30 - 21.45 berlangsung
pementasan drama berjudul Nuurun Saati'un min Nurs (Cahaya dari Nurs). Yang diadakan oleh mahasiswa jurusan Bahasa
dan Sastra Arab angkatan 2015, semester tujuh. Pementasan drama ini disutradarai
oleh Achmad Abdul Aziz dan Umi Rahmiatun. Naskah ditulis oleh Fauziah
Kurniawati, Hasan Basri, dan M. Choirul Umam. Mutarjim (penerjemah) M. Sahni
Arja. Para pemainnya adalah mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab angkatan 2015.
***
Malam telah merampas kesulitan dan ketergesaan kita dalam kerja-kerja
kehidupan saat siang. Malam menjadi ruang lelah dan tetirah. Malam ini di Home Theater
Fakultas Humaniora UIN Malang lautan manusia menyembul. Berdesak-desakan. Entah
dari mana. Banyak sekali. Semoga bukan buih. Suasana gelegar acara terasa sekali,
terwakili oleh desir angin yang berbeda, dan pendar cahaya yang berdenyaran. Kelop-kelop
lighting seperti lampu disko. Ramainya seperti pasar malam. Ya, barangkali memang
malam ini adalah anomali dari kehidupan itu sendiri. Dalam kehidupan tak ada katarsis
kenikmatan yang berlangsung abadi, sesekali bahkan seringkali kita lebih banyak
jatuh bangun dan "babak belur" dalam menghadapi kenyataan hidup.
Malam ini Home Theater merubah wajah temaramnya menjadi ganih putih.
Dari jauh panggung seakan berdetak, seperti jantung yang tak henti-hentinya mengatakan
"aku adalah tanda bahwa kehidupan sedang berlangsung". Kita seperti sedang di gedung pertunjukan besar
Coliseum di St. Martin Lane. Banyak lampu menghiasi, dan yang ketinggalan saya sebutkan
adalah pintu masuk yang dihiasi ornamen seperti kaligrafi, saya mungkin bisa menyebutnya
pintu tentakel berbahan lunak.
Memasuki area tribun penonton, saya melihat sekeliling, seperti ruak-ruak
sedang berbisik di rawa, menunggu ikan-ikan yang mendongak ke langit perairan. Sebelum
duduk saya bergumam pada diri sendiri. Dengan
panggung dan properti semegah-mewah dan sebanyak ini, dari polesan sehebat ini,
semoga ada pesan besar dan desing nilai yang tersampaikan, yang tak sia-sia.
Berbanding lurus dengan tampilan yang dibawakan. Mari kita saksikan.
Pentas Dimulai..
Saya lihat dengan seksama, saya tertuju ke layar lebar di kanan
kiri. Karena dua layar tersebut sangat penting perannya, bagi penonton yang duduk
di tribun atas dan belakang pasti sangat membantu. Berhubung saya duduk di kursi
nomor dua, belakang para pejabat, sebenarnya tak perlu risau dengan layar.
Karena jarak panggung dengan saya hanya sekitar dua meter. Tapi tidak, saya
bersikeras menunggu apa yang muncul di layar kanan dan kiri. Namun tak ada yang
beda dengan di panggung. Yaitu datangnya seorang pemuda penggembala biri-biri
yang berpakaian "ala arab". Saya tidak tahu tepat atau tidak penyebutan
"ala arab" ini saya sematkan. Pemuda itu menggembala biri-biri di ladang
jagung, kemudian kehilangan satu biri-biri. Saya tidak faham, cara kerja
penggembalaan ini, baik ruang dan waktu penggembalaannya, kenapa di ladang
jagung. Namun berpakaian ala arab.
Nahas bagi penonton yang tidak paham bahasa arab. Karena drama ini full
disajikan dengan bahasa pengantar bahasa arab. Awalnya saya berpraduga bahwa
salah satu layar di kanan atau kiri panggung ada yang dimanfaatkan menjadi
media alih bahasa. Juga deskripsi cerita awal. Karena ini sangat membantu bagi
berjalannya pementasan. Terlebih jika ada penonton yang tidak paham bahasa arab
pasti plonga-plongo. Akhirnya pementasan yang seharusnya memiliki pesan malah
terhambat oleh komunikasi dua arah yang tak selesai, cerita yang
"ujug-ujug" dan penonton yang tergagap-gagap. Pementasan ini akhirnya
berupaya mengeklusifkan diri dari khalayak. Membangun pagar sendiri untuk menutup
kemungkinan-kemungkinan. Berkaitan dengan pementasan berbahasa arab di jurusan
Bahasa dan Sastra Arab sendiri setahu saya belum lama diberlakukan, seingat
saya baru dua atau tiga kali pentas ini. Sebelumnya memakai bahasa Indonesia. Dengan
berubahnya pemakaian bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa arab sangatlah positif,
namun perubahan itu tidak boleh mengurangi kadar ketersetangkupan komunikasi di
panggung dan di pihak penonton. Ini berbahaya, jika terputus.
Turki. Cerita ini mengambil setting tempat di Turki. Saya kira para
penonton pasti awalnya tidak tahu. Kemungkinan terpendek adalah para penonton mengira
ini adalah sebuah parodi budaya. Saya merekam dengan jelas gelak tawa penonton
ketika ada suara kambing yang mengembik dan si penggembala yang mengejarnya. Dengan
pembukaan si penggembala dengan "dunia penggembalaan" yang aneh.
Untungnya saya sudah dapat bocoran bahwa naskah yang ditulis ini merupakan saduran
dari Novel Api Tauhid karya Habiburrahman El-Shirazy. Jadi sedikit banyak tahu kira-kira
cerita mau jatuh kemana.
"Kuch Kuch Hota Hai". Iya, saya tiba-tiba mendengar lagu ini muncul di tengah
adegan pasangan suami istri berkebangsaan Turki, di ruang tamu. Lagu yang
dinyanyikan oleh Udit Narayan dan Alka Yagnik itu menghiasi perbincangan seorang
suami istri yang sebenarnya isinya adalah kata dho' (taruh), tentang
kopi yang ditaruh di atas meja dan tentang cinta yang ditaruh di tempat
sewajarnya, hati terdalam. Lagi-lagi saya gagal memahami peristiwa yang seharusnya
"musikal" ini.
Saat ada adegan pemanggilan Said Nusry tiba-tiba muncul sosok Kemal
Pasha. Merokok? Saya kira hanya tipuan, ternyata rokok asli, disulut. Saya
tercenung. Apa maksudnya? Belum selesai saya menjalin alasan dan rangkaian jawab
atas kehadiran rokok, tiba-tiba di samping saya ada pasangan dosen yang menonton,
bersama anaknya. Anaknya bertanya: "Ma.. Itu merokok ya, Mas itu...?"
mendengar pertanyaan itu saya mengalihkan fokus ke percakapan ibu dan anak
tersebut. Saya tunggu betul nih jawaban dari si ibu dosen kepada anaknya.
"Bukan Nak.. Itu bo'ongan...".
Perlu diketahui ada banyak anak kecil yang turut menonton di malam ini. Anak-anak dosen tentunya. Anak-anak orang berpendidikan (sekolah). Namun dalam kondisi "terdesak" semacam itu tadi ternyata seorang ibu harus terpaksa berbohong untuk memutuskan jawaban apa yang dipilih atas pertanyaan anaknya. Sebenarnya alasan kehadiran rokok itu untuk apa, saya belum dapat gambaran. Ini ruangan Home Theater ber AC, namun ada adegan merokok. Jika memang untuk membuat efek sinis sosok Kemal Pasha, sebenarnya tak perlu rokok, ada adegan lain yang lebih kuat, misalkan cara memandang, mimik muka, atau cara duduk, dan banyak yang lain, tanpa perlu merokok, apalagi saya melihat aktor sudah kuat karakternya. Karena adanya rokok akan memicu pembahasan lain (masalah edukasi?), juga masalah keidentikan, apakah orang sinis, sombong, karakter negatif harus diatribusikan dengan rokok? Ini menjadi permasalahan tersendiri. Saya punya pengalaman, dulu sekali saat SMA saya dan teman-teman jurusan bahasa mengadakan pentas drama, kemudian kami menghadirkan botol Jack Daniels di panggung, setelah pentas kami "diumbah" dan dipersalahkan dengan alasan "edukasi" yang negatif. Padahal kami juga sudah menghitung perkara itu, namun meleset.
Perlu diketahui ada banyak anak kecil yang turut menonton di malam ini. Anak-anak dosen tentunya. Anak-anak orang berpendidikan (sekolah). Namun dalam kondisi "terdesak" semacam itu tadi ternyata seorang ibu harus terpaksa berbohong untuk memutuskan jawaban apa yang dipilih atas pertanyaan anaknya. Sebenarnya alasan kehadiran rokok itu untuk apa, saya belum dapat gambaran. Ini ruangan Home Theater ber AC, namun ada adegan merokok. Jika memang untuk membuat efek sinis sosok Kemal Pasha, sebenarnya tak perlu rokok, ada adegan lain yang lebih kuat, misalkan cara memandang, mimik muka, atau cara duduk, dan banyak yang lain, tanpa perlu merokok, apalagi saya melihat aktor sudah kuat karakternya. Karena adanya rokok akan memicu pembahasan lain (masalah edukasi?), juga masalah keidentikan, apakah orang sinis, sombong, karakter negatif harus diatribusikan dengan rokok? Ini menjadi permasalahan tersendiri. Saya punya pengalaman, dulu sekali saat SMA saya dan teman-teman jurusan bahasa mengadakan pentas drama, kemudian kami menghadirkan botol Jack Daniels di panggung, setelah pentas kami "diumbah" dan dipersalahkan dengan alasan "edukasi" yang negatif. Padahal kami juga sudah menghitung perkara itu, namun meleset.
Ada juga yang ganjil di tengah-tengah pementasan. Yaitu di tempat muhadharah
Said Nursy saat pembacaan wirid, pujian dan doa-doa, ada koor yang membuat
ruang menjadi pecah. Keheningan dari pujian dan doa terenggut secara tiba-tiba.
Apalagi paduan suara berdiri tepat di samping panggung, akhirnya visual
penonton terbelah, konsentrasi hanyut, dan kekhusyukan pun pergi entah kemana.
Namun menjelang akhir pementasan terlihat sekali kekuatan para
aktor, saya suka. Terbukti para penonton menjerit tak habis-habis saat adegan
penyiksaan Said Nursy dan para pengikutnya. Dan adegan-adegan selanjutnya.
Setahu saya teater adalah puncak dari seni, jika boleh saya sebut teater
adalah semacam kenduri kebudayaan. Karena di dalam ritual pementasan membawa beberapa
seni yang disatukan dalam panggung; sastra, seni rupa, musik, tari dan iklim kebudayaan
yang lahir dari kreatifitas. Begitu pula dengan pementasan drama seperti ini. Banyak
seni yang harus ditaklukkan dan disatukan.
Selebihnya, toh "Semua dapat tempat, semua harus dicatat," kata Chairil Anwar.
Malang,
6 Desember 2018; 23.25 WIB
Oleh: Fathul
H. Panatapraja*
*Menaruh minat pada sastra,
seni dan filsafat. Tinggal di Malang. Bisa berkorespondensi di panatapraja@gmail.com,
Fathul Panata Praja, fathul_panatapraja.
SWAJIWANITA; Antara Semangat Perjuangan, Cinta dan Kesetiaan
- 3:43:00 PM
- By Lensa Teater
- 1 Comments
Antara Semangat Perjuangan, Cinta dan Kesetiaan Kontribusi Seniman Muda sebagai Angin Segar Seni Pertunjukan di Kota Malang. Gedung Kesenian Gajayana diramaikan oleh ratusan penonton pada Sabtu malam, (05/05/2018)....
Lensa Teater - FESTAWIJAYA (Festival Teater Brawijaya) 5 resmi dibuka Senin (23/04/2018) di gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya Malang. Kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh UKM Teater KUTUB ini...
FOXXI; TEATER SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN INTEGRAL DI SEKOLAH
- 4:54:00 PM
- By Lensa Teater
- 0 Comments
Lensa Teater - FOXXI (Festival Opera XXI) adalah sebuah ajang apresiasi seni yang digelar oleh Brawijaya Smart School di gedung UB TV pada Sabtu (21/04/18) kemarin. Kegiatan ini...
Sanggar Bahana Antasari UIN Antasari Banjarmasin meraih Penyaji Terbaik STIGMA 5 Malang serta 4 nominasi lainnya Pengantar Sebelum pernyataan hasil evaluasi sajian monolog peserta Festival Monolog Mahasiswa Nasional...